Asap Gudang Garam Kretek

Ada Teh Nala di dalam hembusan asap gudang garam kretekku. Dihembuskan dengan penuh rasa syukur atas nikmat Tuhan yang Maha Asyik. Ada apa lagi di depan sana? Tidak tahu, kan aku tempe.

Kalo aku jadi presiden, ibu presidennya tentu Teh Nala. Tapi aku tidak mau menjadi presiden,  banyak pikiran kayaknya. Aku takut standar bersyukurku menjadi semakin tinggi dan susah untuk dicapai. 

Gudang garam kretekku tinggal setengah. Asapnya pedih jika mengarah ke mata. Maka kupejamkan mataku sejenak agar asapnya hilang. Asapnya hilang, Teh Nala tidak, masih disini.

Bersama asap gudang garam kretek, aku menghela napas. Satu kali, tiga kali. Jadi rakyat biasa rasanya sudah cukup.

Kepada asap gudang garam kretek aku bercerita. Tentang perjalanan yang telah lalu dan perjalanan yang akan datang. 

Kepada asap gudang garam kretek aku bercerita. Tentang rasa syukurku terhadap hari ini. Tentang senyum dan tawa Teh Nala, tentang betapa menyebalkannya Teh Nala, atau tentang cantiknya, tentang gengsinya, tentang keras kepalanya, tentang pendiriannya, tentang apapun yang aku tahu. 

Ada Teh Nala di dalam hembusan asap gudang garam kretekku. Dihembuskan dengan penuh rasa syukur atas nikmat Tuhan yang Maha Asyik.

Komentar