Nala Tidur, Ya?
Selamat tidur, Teh Nala.
Ini ditulis saat setelah Teh Nala tertidur ketika kita sedang dalam jaringan telepon. Sudah sejauh ini ya, tidak terasa.
Keyakinanmu tidak bisa aku paksakan. Aku tidak punya kuasa untuk itu.
Aku mau cerita. Tapi sebenarnya aku tidak ingin menceritakan sekarang. Tapi aku mau cerita sekarang aja.
Teh Nala mau dengar atau baca, bilang ke aku ya. Tapi aku tulis disini.
Kalau mau ditarik mundur, sepertinya Bagus Pahlawan sudah menyukaimu jauh sebelum dia berniat untuk memulai. Diam-diam dia melihatmu dengan seksama ketika sedang bertemu di dalam jaringan melalui aplikasi zoom meeting. Diam-diam dia memberi pin pada videomu agar dia bisa fokus untuk melihat siapa yang ingin dia lihat. Tapi saat itu dia belum punya niat sama sekali untuk mendekatimu atau mendekati siapapun. Bagus masih berusaha untuk menikmati kesendiriannya.
Nggak nyaman pake kata ganti orang ketiga.
Aku suka sama Teh Nala. Kalo Teh Nala ngerasa nggak pantas untuk disuka, salah. Karna aku bener suka sama Teh Nala. Aku nggak tahu, Teh Nala bener bener nggak yakin sama perasaanku, atau ini cara Teh Nala aja untuk nolak aku secara halus. Aku suka sama Teh Nala, sekali lagi. Kendala-kendala seperti kita punya jarak dan lain-lain, aku yakin bakal bisa ngelewatin itu. Tapi ya itu, dasarnya dari aku suka sama Teh Nala. Aku nyaman untuk cerita ke Teh Nala, aku mau dengerin nasehat-nasehatmu. Aku menanti saran-saranmu setiap saat. Aku suka kalo Teh Nala lagi ngomel atau marah marah, meskipun agak deg-degan dikit. Jangan ngerasa nggak pantas, sekali lagi. Karena kalo Teh Nala ngerasa gitu berarti Teh Nala merendahkan orang yang aku anggap spesial, sini berantem sama aku.
Teh Nala sering bilang aku masih bisa dapat yang lebih dari Teh Nala, perihal jarak dan lain-lain. Enggak, aku pilih Teh Nala. Aku nilai Teh Nala yang terbaik. Karna nggak ada yang melampaui rasa sukaku ke Teh Nala. Udah ah capek.
Kalo Teh Nala masih ragu, coba tanya ke hati Teh Nala sendiri, sebenernya Teh Nala mau nggak menerima Bagus Pahlawan? Jangan-jangan semua pertanyaan ragumu itu ternyata sebuah pernyataan halus untuk tidak menerimaku.
Love you too, Teh Nala.
Komentar
Posting Komentar